Tanya Jawab Seputar Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (2)

6. Jelaskan mengenai keberadaan Allah !

Ini juga merupakan bantahan terhadap orang-orang yang membagi tauhid
menjadi tiga macam; Tauhid Uluhiyyah, Tauhid Rububiyyah dan Tauhid al Asma’ wa ash-Shifat.
Pembagian tauhid ini menyalahi Aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Maksud dan tujuan dari
pembagian ini adalah untuk mengkafirkan orang-orang mukmin yang bertawassul dengan
para nabi dan orang-orang shalih, mengkafirkan orang-orang mukmin yang mentakwil ayatayat
yang mengandung sifat-sifat Allah dan mengembalikan penafsirannya kepada ayat-ayat muhkamat. Ini berarti pengkafiran terhadap Ahlussunnah Wal Jama’ah yang merupakan kelompok mayoritas di kalangan umat Muhammad.

Jawab: Allah ada, tidak ada keraguan akan ada-Nya. Ada tanpa
disifati dengan sifat-sifat makhluk dan ada tanpa tempat dan arah. Dia
tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya dan tidak ada
sesuatupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya.

Allah ta’ala berfirman:
Maknanya: “Tidak ada keraguan akan adanya Allah” (Q.S.
Ibrahim: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

Maknanya: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan tidak ada sesuatupun selain-Nya” (H.R. al Bukhari dan lainnya)

7. Apakah hukum memanggil (Nida’) seorang nabi atau seorang wali, meski tidak di hadapan keduanya, dan apa hukum meminta kepada nabi atau wali sesuatu yang biasanya tidak pernah diminta oleh umat manusia ?
.

Jawab: Itu semua boleh dilakukan, karena perbuatan seperti itu
tidaklah dianggap beribadah kepada selain Allah. Ucapan “Wahai
Rasulullah” semata bukanlah syirik. Dalam sebuah hadits yang tsabit
disebutkan bahwa Bilal ibn al Harits al Muzani (salah seorang sahabat
Nabi) mendatangi makam Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam saat
musim paceklik di masa pemerintahan Umar ibn al Khaththab –semoga
Allah meridlainya-lalu Bilal berkata (di depan makam Nabi): “Wahai
Rasulullah ! mohonlah (kepada Allah) agar diturunkan air hujan untuk
umatmu, karena sungguh mereka telah binasa” (H.R. al Bayhaqi dan
lainnya). Apa yang dilakukan sahabat Bilal ini sama sekali tidak
diingkari oleh sahabat Umar dan para sahabat lainnya, bahkan mereka
menilai perbuatan tersebut bagus. Allah ta’ala berfirman:

Maknanya: “Sesungguhnya jikalau mereka ketika menzhalimi diri
mereka (berbuat maksiat kepada Allah) kemudian datang kepadamu
lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulullah-pun memohonkan
ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah maha menerima
taubat lagi maha penyayang” (Q.S. an-Nisa: 64)

Juga dalam hadits yang tsabit telah disebutkan: Bahwa Ibnu Umar
mengatakan:

(wahai Muhammad) ketika merasakan semacam kelumpuhan pada kakinya (H.R. al Bukhari dalam kitabnya al Adab al Mufrad)

8. Terangkan tentang tawassul dengan para nabi?

Jawab: Para ulama sepakat bahwa tawassul dengan para nabi itu
boleh. Tawassul adalah memohon datangnya manfa’at (kebaikan) atau
dihindarkan dari mara bahaya (keburukan) dari Allah dengan
menyebut nama seorang nabi atau wali untuk memuliakan (ikram)
keduanya, dengan disertai keyakinan bahwa yang mendatangkan
bahaya dan manfa’at secara hakiki hanyalah Allah semata. Allah ta’ala
berfirman:

Maknanya: “Dan carilah hal-hal yang (bisa) mendekatkan diri kalian
kepada Allah” (Q.S. al Mai-dah: 35)

Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi
wasallam mengajarkan kepada seorang yang buta untuk bertawassul
dengannya. Lalu orang buta tersebut melaksanakannya di belakang
(bukan di hadapan) Nabi, maka Allah mengembalikan penglihatannya
(H.R. ath-Thabarani dan dishahihkannya)

9. Jelaskan mengenai tawassul dengan para wali !

Jawab: Boleh bertawassul dengan para wali, tidak diketahui ada
orang yang menyalahi kebolehan ini dari kalangan Ahlul Haqq (orangorang
yang berada di jalur kebenaran), baik generasi Salaf maupun
Khalaf. Dalam hadits diceritakan bahwa Umar bertawassul dengan
‘Abbas (paman Rasulullah). Umar berkata: “Ya Allah kami
bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi kami (‘Abbas) (supaya
Engkau turunkan air hujan)” (H.R. al Bukhari)

10. Jelaskan mengenai hukum mengucapkan pujian (mad-h)
untuk Rasulullah !

Jawab: Hukumnya boleh dengan Ijma’ (kesepakatan para
ulama’).

Allah ta’ala berfirman:
Maknanya: “… dan mereka memuji, mengagungkan dan membela
Rasulullah” (Q.S. al A’raf: 157)

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa suatu ketika ada
sejumlah perempuan yang memuji Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam
dengan mengatakan di hadapan Nabi:

Maknanya: “Dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad mempunyai
perilaku yang agung” (Q.S. al Qalam: 4)

Allah juga berfirman:

“Muhammad adalah seorang tetangga yang sangat agung” (H.R. Ibnu
Majah)

Telah disebutkan dengan sanad yang shahih bahwa tidak sedikit
sahabat Nabi yang memuji-muji Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam
seperti Hassan ibn Tsabit, ‘Abbas dan yang lainnya, dan Rasulullah
sendiri tidak mengingkari hal tersebut, bahkan sebaliknya justru
menganggapnya sebagai perbuatan yang baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: